Sepenggal Kenangan Manis

Setiap malam ketika hendak berangkat tidur, ibuku bersimpuh menaikkan doa. Bukan di atas dipan yang empuk lagi hangat, namun di lantai ubin yang dingin. Dia berdoa begitu lama, bisa satu jam. Aku selalu tidak tahan menunggu dia berdoa karena doaku selalu singkat. Toh, Tuhan Maha Tahu! Tapi, Ibu tetap bersikeras berdoa panjang lebar.

Ia menyebut Bapak dan kami, anak-anaknya, satu per satu. Dia mengucap syukur untuk satu hari yang sudah berlalu dan memohon untuk tidur yang nyaman dan hari esok yang baik. Dan setiap kali gajian, doanya pun bertambah. Sambil memegang amplop berisi uang itu, ia mengucap syukur untuk gajinya yang kecil sebagai guru SD yang hampir tidak pernah naik pangkat karena suaminya telah diberi ‘tanda’. Ia pun mengucap syukur untuk gaji Bapak yang tak kalah mungil sebagai pekerja gereja dan untuk tambahan rezeki dari hasil Bapak memotret. Dia juga berdoa untuk orang-orang lain, yang sedang sakit dan kesusahan.

Esok hari, ia selalu bangun sangat pagi. Saat matahari masih malu-malu bersinar. Mengurus ayam-ayam, menyiapkan sarapan, menyapu halaman, dan menyiram tanaman. Sementara Bapak menyuci pakaian, perabotan dapur, dan menyeduh teh untuk kami semua.

Setelah semua beres, Ibu dan Bapak pun berangkat bekerja. Ketika itu, mereka cuma punya sepeda angin dan tidak ada moda transportasi bus seperti sekarang. Mereka berdua menempuh jalan yang begitu jauh ke tempat kerja. Ada suatu masa ketika tempat kerja Ibu begitu jauh dari rumah, barangkali sekitar 10 km. Dan, ia menempuhnya setiap hari dengan sepeda anginnya. Tidak pernah aku mendengar ia mengeluh, entah saat panas terik atau hujan deras. Ada sinar kebahagiaan di wajahnya saat ia mengajar dan bertemu dengan anak didiknya. Ada sinar kebanggaan di matanya saat mendengar cerita tentang anak-anak didiknya yang telah berhasil.

Dalam sebuah percakapan ketika Ibu sudah pensiun, ia berkata, “Lihatlah, Tuhan tidak tidur. Ia mendengarkan doa kita. Ia mencukupkan rezeki kita. Bapak Ibu dengan gaji yang tidak besar bisa menyekolahkan kalian (kami, tiga bersaudara) sampai lulus kuliah. Dan Ibu bersyukur, kalian semua mendapat pekerjaan yang baik tanpa harus menyogok. Itu berkat yang luar biasa!”

Jakarta, 25 November 2013.
*Selamat Hari Guru! Terimakasih Ibu telah mengenalkan aku pada huruf dan angka. Namun, ucap syukur terbesarku adalah saat kau mengajarku tentang ketabahan, tentang kesederhanaan, tentang mengucap syukur, tentang mengasihi, tentang kesetiaan, dan tentang pengampunan. ‘Till we meet again, Ibu!

Advertisements

January 2, 2014 at 3:05 pm Leave a comment

2013 in review

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2013 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

A San Francisco cable car holds 60 people. This blog was viewed about 1,300 times in 2013. If it were a cable car, it would take about 22 trips to carry that many people.

Click here to see the complete report.

January 2, 2014 at 2:59 pm Leave a comment

A notes for you

How I wished to have more solitude time with you
Shutting up from the fucking busy world outside there
Just you and me
With a bottle, or maybe two, good beer
talking about life and laughing hard
Staring at the starry night sky on the hill by the seashore
Breathing the whirl wind
Feeling warm by the fire
And perhaps we could light some fireworks to make the sky even brighter
Playing a guitar and singing out loud and dancing like fools
But I know you’ll never know me that far
We’d always be strangers
that once upon a time ever got collided

*miss you much, my stranger*

July 26, 2012 at 7:08 pm Leave a comment

A true companion

Mother: I thought I had many friends… But at the end, I found out, I have one friend, only.
Me: And who is it?
It’s very quiet for a minute or two. Then she said: It’s your father…
Then they both laughed in tears. I myself had watery eyes and smiled.

That was one of the most touching moments I experienced in life. It was the way of my mom expressing her love to my father. And I knew that my father was moved by her feeling. And deep down in his heart, I knew that he knew, it was her who has been a very faithful and reliable friend. His true companion.

*My father is 76, my mother’s 74. They now spend most of their time in bed. They can’t go anywhere without other people’s help.

June 8, 2012 at 3:34 pm Leave a comment

Pembodohan Formal

Bang Maman dari Kali Pasir dan Mengenal Cerita Si Angkri pantas memicu kemarahan dan kecemasan para orangtua dan pemerhati dunia pendidikan. Kedua cerita tersebut merupakan materi pelajaran yang termuat dalam Lembar Kerja Siswa (LKS) Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta untuk siswa kelas 1 dan kelas 2 Sekolah Dasar (SD). Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta termasuk dalam kurikulum muatan lokal pendidikan dasar di Jakarta.

Kedua cerita tersebut tidak mengajarkan nilai moral yang baik, bahkan tidak pantas. Dikemas layaknya alur dalam sinetron di layar kaca, Bang Maman dari Kali Pasir dalam buku terbitan PT Mitra Kreasi menceritakan tentang pemaksaan kehendak orangtua terhadap anak dalam hal pernikahan dan perceraian, tipu daya untuk mendapatkan yang diinginkan, pengkhianatan dalam hubungan suami istri, serta sifat materialistik.

Sementara, Mengenal Cerita Si Angkri, dalam buku yang diterbitkan oleh CV Alam Sakti Persada Global, membawa anak masuk ke “dunia hitam” premanisme. Cerita tentang para jagoan ini secara tak langsung mengajarkan anak tentang budaya kekerasan dengan menggunakan golok untuk mencelakai dan membunuh orang, balas dendam, perjudian, dan daya tarik seksual untuk menjebak lawan jenis.

Jelas, alih-alih memberikan edukasi, kisah semacam itu justru merupakan pembodohan dan merusak jiwa anak. Apalagi, materi ini untuk siswa SD yang akan merekam kuat kisah itu dalam memori mereka. Celakanya, pembodohan dan perusakan itu dilakukan secara formal, massal, dan serentak. Lebih mengenaskan, para guru sebagai pendidik seperti abai terhadap persoalan ini dan tetap mengajarkan materi ini.

Padahal, seharusnya ada proses penyaringan untuk setiap buku yang dipakai dalam proses belajar mengajar di sekolah. Para guru pun wajib mempelajari terlebih dahulu materi yang akan diajarkan. Apakah ini sekadar kelalaian? Ataukah, ada faktor lain, seperti “komitmen” pada pihak penerbit?

Kurikulum muatan lokal seharusnya bisa memberikan keleluasaan bagi pengajar untuk memberi nilai tambah pada kurikulum pendidikan nasional. Seharusnya, guru bisa memanfaatkan kepercayaan dari pusat ini untuk membentuk karakter anak bangsa yang kuat. Bukan sebaliknya. Mungkin para pendidik harus mengingat kembali nasehat Martin Luther King Jr., “Inteligensia plus karakter – itulah tujuan dari pendidikan yang sebenarnya.”

 

Jakarta, 12 April 2012

(Published on KONTAN daily, April 13th 2012)

April 23, 2012 at 11:44 pm Leave a comment

Forgotten (Hitoribocchi no yoru)

Haven’t I told you…
I was just a falling leaf in autumn
One that would be vanished
by the wind and by the cold of winter

However you insisted
That I…
would never be forgotten
Perhaps…
‘Cause autumns would always come and go

And now…
Two autumns have passed
Through winter, the cherry blossom trees spark in soft colors
Lost in cheerful seasons
You have forgotten
the dull leaf last autumn
So you, have forgotten us

Hitoribocchi no yoru
Once you said…
Hitoribocchi no yoru

 
Those words of mine now…
– Remembering you
Jakarta, March 22, 2012

March 23, 2012 at 12:14 am Leave a comment

Jokowi dan KTP DKI

Semenjak resmi maju sebagai calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta, pasangan Joko Widodo dan Basuki Tjahaja Purnama (Jokowi-Ahok) jadi perbincangan seru di antara warga Jakarta dan sekitarnya. Juga, di Surakarta, pos Jokowi sebelum pencalonannya ini. Tak sedikit warga Kota Bengawan keberatan ditinggalkan oleh Jokowi, sosok yang dianggap telah berprestasi membuat perbaikan-perbaikan di Solo.

Toh, Jokowi, sebagai kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI-P), tidak bisa menolak panggilan partai untuk mentas di pertarungan menuju DKI I.

Sementara, bagi warga Jakarta dan sekitarnya, Jokowi-Ahok merupakan pasangan yang fenomenal dan mengagetkan. Pertama, boleh dibilang, masyarakat baru mengetahui kepastian pencalonan diri mereka baru pada batas waktu pencalonan atau Senin lalu. Sebelumnya, meski namanya sempat disebut-sebut, Jokowi tak pernah menunjukkan ambisinya untuk mengejar kursi gubernur DKI Jakarta.

Kedua, Jokowi berpasangan dengan Ahok, yang di mata sementara orang tidak populer. Tak cuma karena beretnis China, tapi juga karena Ahok non-Muslim. Di negara di mana isu etnis dan agama masih menjadi mantra sakti, Ahok menjadi titik lemah yang bisa dimanfaatkan oleh lawan-lawannya untuk menjatuhkan pasangan ini.

Tentu, PDI-P dan Partai Gerindra, sebagai mengusung Ahok, sadar betul akan hal itu. Toh, mereka tetap mengusung Ahok. Nada sinis menuding, Ahok akan dijadikan pemancing dana dari para pengusaha etnis China. Simpatisannya membela, meski sama-sama China, pebisnis curang tak akan mendukung Ahok. Pasalnya, mantan bupati Belitung Timur ini dikenal sebagai sosok yang susah disuap. Faktanya? Ya, kita cermati saja nanti.

Ketiga, pasangan ini sama-sama bukan penduduk Jakarta sehingga tidak memiliki KTP DKI. Jokowi berasal dari Solo, Ahok dari Belitung Timur. Belakangan, faktor ini menjadi titik serang mereka yang tak menyukai pasangan ini. Mereka dicap sebagai bukanlah ‘salah satu dari kita’. Mereka tidak pernah merasakan, mengalami, apalagi memahami lika-liku persoalan Jakarta.

Barangkali, tudingan itu ada benarnya. Tapi, jika boleh menjawab dengan jujur (dalam wawancara imajiner saya, mungkin), Jokowi-Ahok mungkin akan memilih tidak maju ke medan DKI. Lebih nyaman bagi mereka menikmati prestasi yang telah mereka ukir di daerah masing-masing. Jakarta, dengan segala riuh dan kompleks persoalannya, terlalu berisiko dan bisa jadi kuburan bagi karir politik keduanya jika mereka terpilih tetapi gagal membuat perbaikan. Seperti pepatah, karena nila setitik, rusak susu sebelanga. Orang mungkin akan segera melupakan kontribusi mereka bagi daerahnya.

Sebaliknya, jika berhasil, tak pelak prestasi itu akan membuat mereka kian bersinar. Namun, melihat betapa carut marut kondisi ibukota, siapa pun pasangan yang terpilih, saya ragu mereka akan bisa membuat perubahan yang berarti. Pun demikian, kemunculan pasangan Jokowi-Ahok, dengan rekam jejak mereka yang banyak menuai pujian, tetaplah membawa asa baru bagi sebagian warga Jakarta. Ya, semoga saja, mereka bukan sekadar pembawa kejutan atau pemberi harapan.

Bagi saya sebagai outsider dan observer, pemilu DKI kali ini jelas bakal terasa berbeda dan lebih seru!

March 22, 2012 at 10:54 pm Leave a comment

Older Posts


Categories

Calendar

October 2018
M T W T F S S
« Jan    
1234567
891011121314
15161718192021
22232425262728
293031  

Blog Stats

  • 14,698 hits