Kirana On the Mood

the way i see everything

Bangkit Setelah Kena Gusur

Acapkali, pedagang tak mampu bangkit lagi setelah kehilangan tempat akibat penggusuran. Namun, kutukan ini dipatahkan oleh para pedagang ikan hias dan bunga potong di Pondoh Indah. Setelah tergusur dari tempat dagang lama mereka di kawasan Barito, bisnis mereka kini menggeliat ramai di bilangan pondok indah.

PAHITNYA pengalaman jadi korban penggusuran masih melekat betul di benak para pedagang ikan hias dan bunga potong yang dulu menempati kawasan Barito, Jakarta Selatan. Tempat dulu mereka berdagang kini telah berubah menjadi taman kota.
“Saya masih ingat, waktu itu uang di tangan saya tinggal Rp 10.000. Saya lama merenung, uang ini saya pakai untuk beli beras atau beli bensin agar saya bisa berburu ikan hias,” kenang Ari, pedagang ikan hias eks-Barito yang kini berjualan di sentra mini di belakang pondok indah Mall 1.
Read more »

December 18, 2009 Posted by akirana | Uncategorized | | No Comments Yet

Ketika Gerakan Wirausaha Bukan Sekadar Memupuk Laba

Banyak perusahaan besar rontok dalam krisis finansial yang mulai mengganas akhir tahun lalu. Sebaliknya, tak sedikit usaha mikro, kecil, dan menengah (UKM) justru bertahan dan berkembang. Di antaranya, sektor bisnis berbasis komunitas atau sosial (social enterprise). Apa sebenarnya social enterprise?

Siapa tak kenal Saung Angklung Udjo (SAU)? Pusat kesenian angklung ini telah mendunia dan membawa berkah besar bagi masyarakat Bandung, Jawa Barat.

Padahal, awalnya Mang Udjo dan istri hanya berniat melestarikan dan mengenalkan angklung ke generasi muda. Namun dengan tata kelola yang baik, inisiatif sederhana ini berkembang menjadi bisnis pariwisata dengan nilai keekonomian yang tak perlu disangkal lagi.

Read more »

November 17, 2009 Posted by akirana | Ideas | , , | 1 Comment

lara

teruslah berjalan hingga bayanganku menghilang
jangan pernah lagi menoleh ke belakang
sebab yang kan kau lihat hanyalah kesedihan tak tertanggungkan
biarkan aku saja yang melihat punggungmu
lenyap ditelan tikungan
biar perih ini untuk kunikmati sendiri

November 10, 2009 Posted by akirana | Uncategorized | | No Comments Yet

Show on TV

Ini dia, reality show on tv paling top tahun ini:
Polisi memburu teroris.
Tokoh utama tentu saja Densus
Tokoh antagonisnya adalah Nurdin M Top dkk
Adegan pembuka: peledakan bom di hotel JW Marriott dan Ritz Carlton, Kuningan, Jakarta
Klimaks: adegan baku tembak di sebuah desa Temanggung, Jawa Tengah
Antiklimaks: adegan baku tembak di Solo. Nurdin dkk dihabisi.
Kapolri pun menyungging senyum puas dikerubungi wartawan.
Akhir cerita.

Coba katakan Tuan Polisi, apakah Anda sudah merasa seperti Arnorld Schwarzenegger?
Dan pemirsa reality show, apakah kalian menikmati manusia membunuh manusia?
Dan Tuan Jurnalis, apakah Anda masih berani mengaku sebagai jurnalis?

Ternyata, banyak pahlawan yang ingin dikenal.
Ternyata, banyak dari kita merasa senang menikmati adegan pembunuhan.
Ternyata, banyak nurani yang terbungkam demi sebuah rating, yang berarti segunung uang.

Sepantasnya kita menangisi diri kita sendiri.

September 18, 2009 Posted by akirana | Opinion | | 3 Comments

kehilanganmu

kamu mengerti arti kesepian
bukan saat kamu sendiri
tapi ketika kamu berada bersama banyak kawan
dan tetap merasa sendiri
hatimu senyap
seperti sesuatu telah dirampas darinya
kamu mencari apa yang hilang
tapi tak jua menemukan
kesepian seperti itu
akan membuatmu menangis
di tengah malam

 

27 Agustus 2009
23.48 waktu Jakarta

September 4, 2009 Posted by akirana | Poetry | | 2 Comments

suatu masa

suatu masa,
belum begitu lama
kamu pernah bilang cinta
kamu menemukanku
di antara ribuan hati yang berserak
janjimu pun masih aku ingat
kamu akan menjaga hatiku itu
dan pada malam-malam
kamu membisikkan mantra-mantra mesra
menggenggamku segenap jiwa
tapi
suatu masa
belum begitu lama
kamu tiba-tiba amnesia
tinggal aku yang tak sanggup lupa
berteriak kalut pada gelap malam
yang membawa pergi mantra-mantra mesra
dan aku kembali hilang
di antara ribuan hati yang terserak
merindumu menemukanku lagi

00.08 waktu Jakarta
28 Agustus 2009

September 3, 2009 Posted by akirana | Poetry | | No Comments Yet

Mi Thoprak & Gempol Pleret

mi thoprakYa. Di hari ketiga, saya beruntung bisa menikmati kuliner yang sudah lumayan langka di Solo: Mi Thoprak dan Dawet Gempol Pleret.
Di kampung saya, penjual mi thoprak hanya muncul saat pesta perayaan Lebaran. Pada saat seperti itu, warga merayakannya dengan menggelar panggung kethoprak, teater rakyat Jawa. Baik sutradara maupun pewataknya adalah warga kampung kamu sendiri. Sebagian warga lainnya berjualan. Salah satu yang dijual adalah mi thoprak. Saya tidak tahu, apa nama makanan ini berhubungan dengan tradisi pementasan kethoprak di kampung saya.
Saya sendiri sebenarnya bukan penggemar berat mi thoprak maupun pentas kethoprak. Tapi, saya sangat menyukai gempol pleret. Makanya, saya langsung meluncur ke bilangan Mangkuyudan. Tepatnya, ke warung mi thoprak dan gempol pleret di Jl Dr Wahidin No. 34, Solo.
Warung milik Suharto ini memang hanya menjual dua jenis makanan itu. Sampai di sana saat panas benar-benar menyengat kota Solo. Matahari seperti sebuah lampu sorot raksasa yang siap melelehkan apa saja. Saya jadi tak sabar memesan dua mangkuk gempol pleret dan semangkuk mi thoprak.
Mi thoprak adalah semacam sup bening segar yang berisi mi kuning, daging sapi bagian sengkel, sedikit irisan kol, potongan tahu dan tempe goreng, dan tauge. Juga ada kacang goreng yang meramaikan setiap kunyahan plus taburan bawang goreng dan cacahan daun seledri yang membikin sedap. Biasanya, saya menyantapkan dengan menaburkan remasan karak, alias rice chip atau gendar dalam bahasa Betawi.

Setelah menyantap mi thoprak panas-panas, es gempol pleret memang pas untuk mencuci mulut. Memang kurang sehat, makan panas dingin seperti ini. Tapi rasanya memang nikmat.
Gempol adalah sebutan untuk bulatan-bulatan putih terbuat dari meniran (pecahan bulir padi). Selain itu ada pleret, yang terbuat dari adonan tepung dan sedikit gula jawa. Kehadiran cendol membuat minuman ini makin meriah. Adapun, kuah minuman ini terbuat dari santan masak cair plus larutan gula jawa kental. Ditambah dengan es, minuman ini makin menyegarkan kerongkongan.
Untuk menikmati dua menu itu, saya cukup merogoh Rp 5.000 per porsi mi thoprak dan Rp 4.000 per porsi gempol pleret. Irit bukan?

September 3, 2009 Posted by akirana | Food | | 2 Comments

Bebek Goreng Pak Slamet

bebek gorengRencana awal sebetulnya berburu empek-empek. Ya, makanan khas Palembang ini mulai populer di Solo. Katanya sih ada satu yang top markotop, meskipun tidak diiklankan besar-besar di baliho. Sayangnya, saya tidak berhasil menemukan lokasi warung yang direkomendasikan Mas Blontank, teman saya.

Ya sudah. Akhirnya, motor saya berbelok arah, dari seputar Kota Barat ke kawasan Tipes. Tujuan saya adalah kedai bebek goreng H. Slamet Raharjo, atau biasa disebut bebek goreng Pak Slamet. Lokasi persisnya, Jl. Bhayangkara No. 39B, Tipes. Bersebelahan dengan gedung Yayasan LIA Solo

Wah, perut saya sudah keroncongan, tak sabar ingin menyantap bebek goreng. Tapi, karena pembelinya banyak, ya harus rela antri. Tapi penantian selama sekitar 15 menit itu tidak sia-sia. Soalnya, bebek goreng Pak Slamet memang istimewa. Dagingnya benar-benar empuk dan ekstragurih. Saya menduga, daging bebek ini direbus terlebih dahulu dengan rempah-rempah dan santan kental.

Cocolan sambalnya juga istimewa. Sambal korek teman bersantap daging bebek ini disajikan gratis bersama lalapan mentimun, daun kemangi, dan daun kol. Pedasnya sungguh mantap dan pas; tidak terlalu asin dan tidak terlalu manis. Sayangnya, jatah sambal ini cukup irit alias sedikit. :D

Saya juga merekomendasikan minuman beras kencurnya. Rasanya kental dan pedas. Sungguh bikin badan hangat. Konon, beras kencur berkhaziat membantu mengurangi rasa penat dan pegal-pegal di badan.

Untuk menikmati semua menu istimewa tadi, jangan khawatir kantong Anda jadi bolong. Sepotong bebek goreng paha cuma Rp 11.500. Bila memilih bagian dada, sedikit lebih mahal, Rp 12.500 per potong. Sementara es beras kencur hanya Rp 3.000 segelasnya. Adapun sepiring nasi yang pulen lagi hangat cukup Rp 2.500.

Oh ya, buat bawaan tangan, Pak Slamet juga menyediakan bebek goreng utuh. Harganya sekitar Rp 50.000 per ekor.

Selain di Tipes, Pak Slamet juga telah membuka sejumlah cabang di Solo. Bahkan, usaha yang dirintis Pak Slamet sejak 1989 ini sudah mulai merambah Jakarta. Tapi, pusat kedai Pak Slamet sebenarnya berada di Kartasura, Sukoharjo.

Hari ketiga, saya menikmati makanan yang sudah lumayan langka, yakni dawet gempol pleret dan mi thoprak. Penasaran seperti apa wujud dan rasanya? Lanjut deh ke posting berikutnya :D

August 23, 2009 Posted by akirana | Food | | No Comments Yet

Selat Enci Notosuman

Saya tidak percaya kata baliho. Saya lebih percaya sama testimoni.

Berlibur ke Solo, tidak afdol rasanya kalau tidak berwisata kuliner. Soalnya, makanan Solo tak cuma enak, tapi pun murah. Ragamnya juga banyak. Makanya, saya bertekad memanfaatkan waktu cuti saya di Solo untuk memanjakan mulut dan perut. Sayang, dikasih cutinya cuma dua hari. Jadi, masih jauh dari puas. Tapi yaaaaaaaaah, lumayanlah! (rada beruntung, dapat tambahan libur 17-an)

 Ini dia hasil jalan-jalan saya:

 Hari pertama. Saya langsung dapat tips jajan dari seorang PR sebuah hotel di Solo. Katanya, “Saya tidak percaya kata baliho. Saya lebih percaya sama testimoni.”

 Ya, sekarang memang baliho penunjuk tempat makan bertebaran di ruas-ruas jalan di Solo. Tapi, sebagai wong Solo asli, saya setuju dengan pendapat mbak PR tadi. Rekomendasi dari teman, rekanan, atau kenalan memang lebih bisa dipercaya. Tentu saja, sepanjang orang itu memang pencinta jajan.

Soal selat solo, miselat solosalnya, orang kebanyakan mungkin akan merekomendasikan warung selat solo Mbak Lies. Tapi, menurut saya, masih banyak peracik selat lain yang lebih top. Pilihan saya pribadi jatuh ke selat racikan seorang enci di Notosuman. Langganan saya sejak dulu.

Oh ya, selat agaknya sebutan keseleo lidah orang Jawa untuk salad. Sepertinya halnya salad, selat solo terdiri atas sayur-sayuran. Tapi, selat solo sangat khas. Racikannya selalu terdiri dari sejumlah sayuran rebus, yakni wortel, buncis, dan kentang rebus. Tak lupa sayur mentah/segar, berupa irisan tomat merah dan beberapa lembar daun selada. Lalu, ada pula keripik kentang dilengkapi dengan acar bawang merah mentimun, serta saus mayonaise.

Sebagai ‘lauk’, selat solo lazimnya menawarkan pilihan semur telor, semur daging sapi, atau galantin daging sapi. Semua itu disajikan dalam kuah encer berwarna coklat yang berasa segar. Pokoknya, benar-benar pas bagi mereka yang menginginkan menu sehat berserat.

Nah, yang membuat racikan selat enci Notosuman istimewa adalah satu porsi selatnya selalu berisi sebutir semur telor plus dua potong olahan daging sapi yang lembut. Lada, garam, dan bawang yang menjadi bumbu utamanya berasa pas di lidah.

Selain itu, kualitas sayurannya juga pilihan. Rebusan wortel, buncis, dan kentangnya empuk, tapi tidak kehilangan citarasa alaminya yang manis. Warnanya pun membangkitkan selera makan. Sementara tomat dan daun seladanya terlihat segar.

Yang menyenangkan, untuk mencicip menu sehat itu, ongkosnya supermurah. Cukup Rp 8.000 per porsi.

Bagi yang ingin menjajal racikan selat ini, datang saja ke daerah Notosuman. Maaf, saking terbiasa, saya malah tak pernah mencatat nama dan alamat warung enci ini. Nama enci peraciknya pun tak tahu. :D Yang pasti, warung ini bersebelahan dengan serabi solo alias serabi Notosuman yang kondang itu. Jadi, mestinya gampang menemukannya.

Selain selat, warung enci ini juga menyediakan gado-gado ala Solo, bakmi goreng, bakmi rebus, dan cap jay.

Satu catatan kecil, warung ini tidak punya tempat parkir khusus. Ruas jalan di depannya pun cuma muat untuk bersimpangan dua mobil. Tapi, kalau tidak malu, bisa sih memarkir mobil di resto rujak cingur yang berjejer dengan warung ini. :D

Hari kedua, saya berburu bebek goreng. Tapi, biar tidak bosan membacanya, posting-nya sengaja saya pisah. Yuk, lanjuuuuut!

August 23, 2009 Posted by akirana | Food | | 1 Comment

Elegi Marshanda

I don’t want to be your idol, see this pedestal is high, and i’m afraid of heights. (Not the Doctor – Alanis Morissette)

Ini bukanlah sebuah pembelaan untuk Marshanda. Hanya mencoba memahami beban psikologis seorang artis muda yang tiba-tiba menyeruak hebat ke permukaan. 

Read more »

August 19, 2009 Posted by akirana | Opinion | | No Comments Yet